Tahapan Perkembangan Psikologi Anak

06/08/2011 10:58

Sebagian besar GSM pasti pernah dipusingkan menghadapi kelakuan anak-anak yang sulit diatur. Ketika acara Sekolah Minggu sedang berlangsung, anak-anak ini membuat ulah yang dapat mengganggu suasana. Ada anak yang tidak bisa duduk tenang, ada anak yang suka pamer kepandaian, ada anak yang menjahili teman sebayanya, tapi ada pula anak yang cenderung pasif.

Untuk menghadapi perilaku demikian, GSM perlu memahami tahapan perkembangan Psikologi Anak.

a. Perkembangan Kognitif Anak

Menurut PIAGET perkembangan kognitif anak ini dibagi dalam 4 tahap:

1. Sensori Motor (usia 0-2 tahun)

Dalam tahap ini perkembangan panca indera sangat berpengaruh dalam diri anak.  Keinginan terbesarnya adalah keinginan untuk menyentuh/memegang, karena didorong oleh keinginan untuk mengetahui reaksi dari perbuatannya.

Dalam usia ini mereka belum mengerti akan motivasi . Senjata terbesarnya adalah ‘menangis’.

Menyampaikan cerita/berita Injil pada anak usia ini tidak dapat hanya sekadar dengan menggunakan gambar sebagai alat peraga, melainkan harus dengan sesuatu yang bergerak (panggung boneka akan sangat membantu).

2. Pra-operasional (usia 2-7 tahun)

Pada usia ini anak menjadi ‘egosentris’, sehingga berkesan ‘pelit’, karena ia tidak bisa melihat dari sudut pandang orang lain. Anak tersebut juga memiliki kecenderungan untuk meniru orang di sekelilingnya. Meskipun pada saat berusia 6-7 tahun mereka sudah mulai mengerti motivasi, namun mereka tidak mengerti cara berpikir yang sistematis dan rumit.

Dalam mengajar, berikan contoh-contoh secara nyata supaya mereka bisa menirunya.

3. Operasional Kongkrit (usia 7-11 tahun)

Saat ini anak mulai meninggalkan ‘egosentris’-nya dan dapat bermain dalam kelompok. Dia patuh pada aturan kelompok dan bersedia bekerja sama. Anak sudah dapat dimotivasi dan mengerti hal-hal yang sistematis.

Namun dalam menyampaikan berita Injil harus diperhatikan penggunaan bahasa. Misalnya: konsep ‘hidup kekal’ – dapat disampaikan dengan menggunakan analogi keluarga.  Orang yang hidup kekal adalah orang yang diangkat menjadi anak-anak-Nya dan menjadi anggota keluarga Tuhan.

4. Operasional Formal (usia 11 tahun ke atas)

Pengajaran pada anak pra-remaja ini menjadi sedikit lebih mudah, karena mereka sudah mengerti konsep dan dapat berpikir, baik secara konkrit maupun abstrak, sehingga tidak perlu menggunakan alat peraga.

Namun kesulitan baru yang dihadapi guru adalah harus menyediakan waktu untuk dapat memahami pergumulan yang sedang mereka hadapi ketika memasuki usia pubertas.

 

b. Perkembangan Psiko-Sosial

Menurut ERICK ERICKSON perkembangan Psiko-sosial atau perkembangan jiwa manusia yang dipengaruhi oleh masyarakat, dibagi menjadi 8 tahap. Namun karena kita membahas tentang Sekolah Minggu, maka di sini hanya diuraikan sampai batas usia remaja.

1. Otonomi/Mandiri >< Malu/Ragu-ragu (usia 2-3 tahun)

Tahap ini bisa dikatakan sebagai masa pemberontakan anak atau masa ‘nakal’-nya. sebagai contoh langsung yang terlihat adalah mereka akan sering berlari-lari dalam Sekolah Minggu.

Namun kenakalannya itu tidak bisa dicegah begitu saja, karena ini adalah tahap dimana anak sedang mengembangkan kemampuan motorik (fisik) dan mental (kognitif), sehingga yang diperlukan justru mendorong dan memberikan tempat untuk mengembangkan motorik dan mentalnya.

Pada saat ini anak sangat terpengaruh oleh orang-orang penting di sekitarnya (Orang Tua – Guru Sekolah Minggu)

2. Inisiatif >< Rasa Bersalah (usia 4-5 tahun)

Dalam tahap ini anak akan banyak bertanya dalam segala hal, sehingga berkesan cerewet. Pada usia ini juga mereka mengalami pengembangan inisiatif/ide, sampai pada hal-hal yang berbau fantasi.

Mereka sudah lebih bisa tenang dalam mendengarkan Firman Tuhan di Sekolah Minggu.

3. Industri/Rajin >< Inferioriti (usia 6-11 tahun)

Anak usia ini sudah mengerjakan tugas-tugas sekolah – termotivasi untuk belajar. Namun masih memiliki kecenderungan untuk kurang hati-hati dan menuntut perhatian.

http://gurusekolahminggu.com/2011/02/menghadapi-anak-sulit/